COUNTDOWN : Not Your Average Thai Thriller With Message

Jumat, 18 Januari 2013
Tagline:
Are you ready to be horrified?

Nice-to-know:
Film yang diproduksi oleh GTH ini rilis di Thailand pada tanggal 20 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Jarinporn Junkiet sebagai BeePatchara Chirathivat sebagai JackPataraya Kreusuwansiri sebagai Pam
David Asavanond sebagai Jesus

Director: 
Merupakan debut penyutradaraan Nattawut Poonpiriya.

W For Words:
Apa yang biasanya anda lakukan di malam pergantian tahun? Rasanya kebanyakan akan menjawab berkumpul dengan teman-teman entah itu beramai-ramai di tengah kerumunan atau private di properti pribadi. Nah, film terbaru keluaran production house GTH yang selalu dapat mempertanggungjawabkan kualitas film-filmnya ini mengambil premis tersebut yang diramu dalam bumbu thriller. Trailernya sendiri sudah berhasil mencuri perhatian semenjak beberapa bulan lalu. Publik Indonesia dapat menikmatinya di bulan Januari 2013 mendatang lewat jaringan bioskop terbatas Blitzmegaplex.

Jack adalah putra konglomerat yang sebetulnya cukup beruntung bisa mendapat kesempatan bersekolah di New York. Sayangnya ia tak kunjung diterima universitas manapun karena sibuk berpesta. Sama halnya dengan Pam yang kerap menghabiskan uang ibunya untuk berbelanja pakaian demi mendapatkan teman kencan. Menjelang pergantian tahun 2013, Pam, Jack dan kekasihnya Bee mengundang bandar narkoba bernama Jesus ke apartemen mereka untuk madat bersama. Inilah awal mimpi buruk dimana nyawa masing-masing menjadi taruhannya.
Nattawut Poonpiriya yang menulis skrip dan menyutradarainya sendiri berupaya memanfaatkan elemen klastrofobik apartemen untuk membangun teror. Bagaimana ruang utama disiapkan menjadi “panggung bermain” sambil sesekali merambah kamar mandi dan kamar tidur. Tidak lupa pemandangan luar jendela Big Apple memberi penegasan bahwa settingnya berlangsung di New York. Tokohnya pun cuma 4-5 orang sehingga proses pengembangan karakterisasi sangat mungkin dilakukan terlepas dari durasinya yang tidak terlalu panjang.

Patut diakui, David Asavanond paling memukau disini lewat peran Jesus (baca: Hay-Seuss yang bisa dipelesetkan menjadi genius). Gaya hipster dengan jenggot, rambut panjang dan jaket kulit berbulunya akan melekat dalam pikiran anda sebagai antagonis “disturbing”. Trio Patchara, Jarinporn, Pataraya seharusnya menjadi karakter favorit sejak menit pertama kemunculannya. Namun seiring film bergulir, persepsi anda bisa jadi akan berubah. Permainan cat and mouse antara mereka merupakan highlight yang cukup menarik disini.
Jika anda menginginkan suguhan gory thriller layaknya Dream Home (2011) atau judul-judul Asia lainnya mungkin akan kecewa. Unsur kekerasan dan darah masih tergolong “aman”. Bisa jadi karena produksi terbaru GTH ini mengejar rating Remaja demi segmentasi pasar yang lebih luas. Setidaknya Countdown menyuguhkan alternatif tontonan dari sudut pandang yang berbeda. Tanpa bermaksud spoiler, ajaran Buddhist sangat kental dimana hukum karma dan sebab akibat berlaku sepanjang hidup seseorang. Sebuah gagasan yang belum tentu bisa diterima oleh semua orang apalagi jika dikawinkan ke dalam genre semacam ini.

Durasi:
90 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:
Read More..

PARENTAL GUIDANCE : Parenting Concept With Laughs and Tears

Kamis, 17 Januari 2013

Tagline:
Here come the grandparents. There go the rules


Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh Chernin Entertainment dan Walden Media ini diedarkan di Amerika Serikat untuk menyambut liburan Natal dan tahun baru pada tanggal 25 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Billy Crystal sebagai Artie Decker
Bette Midler sebagai Diane Decker
Marisa Tomei sebagai Alice Simmons
Tom Everett Scott sebagai Phil Simmons
Bailee Madison sebagai Harper Simmons

Joshua Rush sebagai Turner Simmons
Kyle Harrison Breitkopf sebagai Barker Simmons

Director: 
Merupakan feature film keenam bagi Andy Fickman setelah You Again (2010).

W For Words: 
Artie Decker adalah komentator pertandingan football yang diberhentikan karena dianggap sudah uzur dan ketinggalan jaman. Dalam kekecewaannya, ia dan istrinya Diane malah diminta putri mereka Alice untuk mengurus ketiga cucu yang tidak pernah dikenal dekat. Meski demikian, Artie dan Diane menyanggupi dikarenakan Alice harus menemani suaminya Phil untuk perjalanan dinas. Sayangnya Harper, Turner dan Barker bukan anak-anak yang mudah diurus terlebih masing-masing memiliki permasalahan yang berbeda. Pasangan Decker dituntut bekerja keras mengejar ketertinggalan walau harus menggunakan metode lama sekalipun.
ON’s: 
- Komedian senior Hollywood, Billy Crystal di usia 64 tahun masih tampil prima sebagai leading role. Simak bagaimana dilematisnya Artie Decker yang tengah kehilangan kepercayaan diri karena dipecat harus mengurus tiga cucu yang tidak menyukainya.
- Bette Midler merupakan favorit saya disini. Senjata pamungkas tokoh Diane Decker yaitu kata-kata lembut tapi tajam menusuk berhasil membuat saya terpingkal-pingkal.
- Bailee Madison adalah versi Katie Holmes yang lebih muda. Gadis belia Harper Simmons ini tumbuh dalam tekanan orangtua perfeksionis hingga bingung menentukan apa yang sebenarnya jadi mimpinya.
- Penyajian teknologi modern R Life yang menyebabkan sebuah rumah seperti hidup dan mampu berkomunikasi adalah faktor kontradiktif yang menarik bagi old couple seperti Artie dan Diane.
- Sutradara Andy Fickman sukses menyeimbangkan unsur drama dan komedinya terutama masalah tempo dan timing yang tepat untuk menghadirkan tawa dan haru dalam esensi kekeluargaan. 

OFF’s: 
- Skrip milik Lisa Addario dan Joe Syracuse ini berupaya untuk menuturkan konsep keluarga tetapi masih terlalu episodik layaknya sebuah sitkom televisi.
- Pembahasan repetitif mengenai teman imajinasi si kecil Barker yaitu Carl si kangaroo tak jarang membuat mata mendelik.
- Humor slapstick masih menjadi andalan masing-masing karakternya dalam frame yang berbeda-beda.

Durasi: 
104 menit

U.S. Box Office: 
$29,589,000 till Dec 2012

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:
Read More..

DEAD MINE : Promising Premise With Disappointing End

Rabu, 16 Januari 2013

Tagline:
Misteri Di Balik Harta Terkubur.

Nice-to-know: 

Film yang diproduksi oleh HBO Asia dan Infinite Frameworks Studio ini gala premierenya diselenggarakan di Plaza Senayan XXI pada tanggal 13 Desember 2012 yang lalu.

Cast: 
Joe Taslim sebagai Djoko
Sam Hazeldine sebagai Stanley
Miki Mizunosebagai Rie
Les Lovedaysebagai Pryce
James Taenaka sebagai Ryuichi
Mike Lewis sebagai Ario
Ario Bayu sebagai Kapten Tino Prawa
Carmen Soo sebagai Su Ling
Bang Tigor sebagai Sersan Papa Ular


Director: 
Merupakan feature film kedua bagi Steven Sheil setelah Mum & Dad (2008).

W For Words: 
Sekelompok tentara bayaran bernama Tim Lima dikepalai oleh Kapten Tino Prawa diminta seorang milyuner, Pryce dan kekasihnya, Su Ling untuk mencari harta karun Yamashita di pedalaman Sulawesi. Turut ikut adalah teknisi Stanley dan peneliti Rie yang membantu membuka jalan. Kala terdesak oleh serangan bajak laut, mereka terperangkap di dalam sebuah bunker militer tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Semakin dalam masuk, rahasia semakin terkuak dimana ada makhluk lain yang mendiami tempat itu dan mengincar nyawa manusia.
ON’s: 
- Aktris Jepang, Miki Mizuno sebagai Rie adalah heroine yang meyakinkan disini. Karakternya penuh keingintahuan, rasional dan memiliki skill yang baik.
- Joe Taslim dan Ario Bayu merupakan dua aktor laga kebanggaan Indonesia dengan kelebihan fisik. Mereka samasekali tidak mengecewakan. Fight till the end!- Penata artistik, Ian Bailie berhasil menyajikan production value yang memikat. Setting lokasi yang meyakinkan, lengkap dengan aksesoris pendukungnya sesuai kebutuhan cerita.
- Penata rias, Adi Wahono dan penata busana, Carol Luchetta menunjukkan kinerja maksimal dalam mendandani para tokoh dan menghidupkan tiap zombie dalam film.
- Departemen penata suara dan musik sukses menghadirkan suasana mencekam yang diperlukan untuk mempertahankan intensitas action horror ini.
OFF’s: 
- Skrip Steven Sheil dan Ziad Semaan ini sebetulnya menjanjikan. Sayangnya klise, tidak fokus dalam bercerita dan penuh irrasionalitas aksi reaksi yang patut dipertanyakan.
- Banyaknya tokoh dengan latar belakang ras yang berbeda-beda tidak didukung oleh karakteristik yang kuat.
- Momok yang awalnya berupa tentara Jepang yang terinfeksi serum dan terkubur di dalam tambang tua tiba-tiba berganti menjadi prajurit Terracota yang berseragam lengkap. WTF?
- Tempo yang lambat di paruh pertama sangat mungkin membuat penonton bosan hingga tertidur.
- Ending yang tanpa konklusi dari sekian subplot yang sudah berjalan amatlah mengganggu. Please refund our tickets!

Durasi: 
91 menit

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:
Read More..

BEST PICK FOREIGN MOVIES OF 2012

THE DARK KNIGHT RISES

The Dark Knight Rises adalah finale yang megah dan mengasyikkan sebagai salah satu summer blockbuster paling ditunggu tahun ini. Memang tidak luar biasa membekas dalam benak layaknya TDK tetapi tetap menahbiskannya secara utuh sebagai tiga episode “manusia kelelawar” terbaik yang pernah diutarakan dalam dunia perfilman. Bruce Wayne disini adalah sebuah inspirasi bagaimana seorang manusia harus hidup dan bangkit dari segala keterpurukan yang dihadapi. Bahwa setiap manusia bisa menyandang status pahlawan seberapa kecilpun usahanya menolong orang lain. Finally, we all should thank Nolan for his aspiring great writing and direction surely can enhance any movie-going experience, especially for superhero movies that most touted as mindless entertainments.

PROMETHEUS

Klimaks yang terasa diperpanjang mungkin sedikit melelahkan. Apa yang seharusnya disudahi ternyata membuka adegan baru lagi dan lagi. Meski demikian, Prometheus tetaplah tontonan yang luar biasa dengan narasi unik yang memberikan pengalaman sains fiksi yang samasekali fresh dan modern. Tak usah terlalu ngotot mencari benang merah pada film-film alien terdahulu tapi tetap berpikiran terbuka terhadap mitos-mitos yang berlaku disini. Pertanyaan seperti, “Siapa pencipta alien? Samakah dengan pencipta manusia?” akan menghinggapi benak anda sekaligus memperpanjang rasa penasaran akan potensi sekuelnya di kemudian hari. Welcome to the never ending “you”-niverse theories!

THE FLOWERS OF WAR

 
Sedikit kelemahan disini adalah Zhang terlalu memaksakan setiap tokoh dalam The Flowers Of War memiliki fungsinya masing-masing sebagai penyokong cerita. Itulah sebabnya alasan sepele tokoh Dou dan Lan ngotot keluar gereja menjadi pertanyaan banyak penonton, atau bagaimana campur aduknya emosi dalam adegan pertukaran identitas sehingga penonton dapat tertawa di tengah kesenduan yang dibangun. Pada akhirnya drama emosional ini memilih bertahan (di dalam gereja) untuk memerangi kecamuk dilematis dalam diri untuk berbuat sesuai hati nurani, bukan karena tuntutan keadaan. Still one powerful experience for becoming one of the witnesses we have never lived in!

AMOUR

Kesabaran anda menonton Amour amat dibutuhkan layaknya kesabaran Georges memahami penderitaan Anne. Layaknya diajak mengamati aktifitas pasangan tua sehari-hari sekaligus menerka seberapa besar kadar cinta mereka terhadap satu sama lain lewat ujaran maaf atau terima kasih tanpa sungkan. Sesuatu yang pantas direnungkan, bagi yang memilih hidup melajang mampukah melewati hari tua seorang diri? Sedang bagi yang menikah bisakah menanggung (atau justru jadi tanggungan) beban pasangan? Kekhawatiran yang begitu mengusik dimana proses penuaan dan kematian adalah harga mati yang patut dibayar tiap manusia tanpa kecuali.

ONE DAY

15 Juli tak lagi sebuah tanda waktu melainkan tolok ukur yang digunakan untuk mereview kembali apa yang sesungguhnya telah terjadi. One Day menegaskan konsep tersebut lewat tampilan tanggal kreatif yang menghiasi pergantian layar dari tahun ke tahun. Terkadang kenanganlah yang membuat kita melanjutkan hidup terlepas dari baik buruknya momen tersebut. Persuasi untuk menjalani hidup semaksimal mungkin bersama orang terkasih tanpa menengok masa depan yang terlampau jauh membentang. Niscaya anda tak akan pernah menyesali apa yang sudah berlalu.

HUGO

Hugo adalah sosok emosional karena hidup dalam kenangan yang digunakannya sebagai pemacu untuk terus melangkah maju sekaligus mempercayai konsep bahwa dirinya hanyalah suatu partikel kecil yang dapat membuat dunia berfungsi secara benar. Penuturan brilian dari Scorsese membawa sugesti persuasif yang jelas, yaitu mengajak penonton untuk selalu menghargai sekaligus percaya bahwa film memang selalu memiliki kekuatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi anda. You will feel the passionate love from Scorsese’s Hugo, a timeless masterpiece that should be treated with an extra honor!

RUST AND BONE

Rust and Bone mengobarkan “passion” dengan luar biasa. Semangat untuk terus maju dan bertahan hidup dipraktekkan oleh Cotillard dan Schoenarts usai mengalami titik nadir masing-masing. Mereka juga berbagi chemistry dengan kuat, membingkai romantisme dengan begitu wajar di atas absurditas sebuah idealisme. Bagaimana sutradara Jacques Audiard memotretkan semuanya dengan begitu brutal dan realistis tapi tidak mengganggu apalagi sampai kehilangan unsur estetikanya. Ikan paus adalah simbol tak berbicara disini, sudut pandang manusia tetap kunci utamanya.

TED

Kelebihan utama Ted tidak hanya menjual kelucuan tapi juga definisi nyata tentang cinta dan persahabatan sejati yang begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari. SIapa yang tidak pernah ada di posisi John Bennett? Untuk itulah film yang menggunakan narasi linier layaknya komik bergambar itu memang lebih disegmentasikan untuk penonton pria dewasa. Satu pertanyaan antah berantah yang tak terjawab adalah jika Ted begitu terkenal, mengapa ia masih harus bekerja dan John masih kesulitan uang? In the end, not every moviegoers will fully appreciate this movie but surely everyone of them will love Ted, cute heart-warming bear who always know how to have fun and friends.

SKYFALL

Skyfall memang tidak bercitarasa pada film-film Bond pada umumnya tapi pendekatan realistis terhadap para anggota MI6 itu membuat segalanya lebih manusiawi. Bagaimana kesalahan perhitungan dan kekeliruan asumsi bisa saja terjadi pada siapapun. Tak ketinggalan selipan humor yang sangat British disana-sini tergolong efektif untuk mencairkan suasana. Templatefilm hero masa kini tak dipungkiri mengalami pergeseran, bukan cuma good versus evil tetapi memaknai prosesnya itu sendiri. Film yang juga kependekan harfiah “the sky is falling ini menegaskan hal tersebut sambil mengumpamakan kesetiaan tiada batas yang mahal harganya.

THE CABIN IN THE WOODS

Tak dipungkiri, The Cabin In The Woods menyimpan kejutan manis nan cerdasnya pada 30 menit terakhir dimana emosi anda akan dimainkan lewat pemaparan utuh konsep tak terduganya yang menjalin benang merah dengan setiap ikonik horor yang pernah ada. Brilian! Lupakan beberapa unsur logika yang terabaikan atau korelasi yang tak terdefinisikan, perjalanan pilihan anda ke pondok di tengah hutan ini akan sangat menyenangkan. Mungkin sedikit berlebihan jika saya menyebutnya sebagai sebuah surat kematian berdarah yang menjadi signature penghormatan dari sejarah film horor sepanjang masa.
Read More..

THE WOMAN IN THE FIFTH : Enigmatic Imaginative Slow Paced Thriller

Rabu, 02 Januari 2013

Tagline:What you can not resist, you may not survive. 

Nice-to-know: 

Film berjudul asli La femme du Vème ini sudah rilis di Perancis pada tanggal 16 November 2011 yang lalu.

Cast: 
Ethan Hawke sebagai Tom Ricks
Kristin Scott Thomas sebagai Margit
Joanna Kulig sebagai Ania
Samir Guesmi sebagai Sezer
Delphine Chuillot sebagai Nathalie

Julie Papillon sebagai Chloe

Director:
Merupakan feature film keempat bagi Pawel Pawlikowski yang diawali dengan The Stringer (1998).

W For Words: 
Belum banyak orang mengenal nama penulis dan sutradara Pawel Pawlikowski. Dua film sebelumnya milik pria berusia 55 tahun asal Polandia ini dipuji kritikus, salah satunya adalah My Summer of Love (2004) yang melejitkan nama Emily Blunt ke jajaran aktris bertalenta tinggi. Kini ia menggarap thriller Perancis yang diangkat dari novel berjudul sama karya Douglas Kennedy. Daya tarik utama adalah dua bintang besar nominator Oscar yaitu Ethan Hawke dan Kristin Scott Thomas. Perlu lebih dari setahun kita baru dapat menyaksikannya lewat jaringan bioskop Blitzmegaplex. Better late than never, right?

Penulis asal Amerika, Tom Ricks datang ke Paris untuk menemui putrinya walau tidak disetujui oleh mantan istrinya, Nathalie. Tom bersikeras menjelaskan pada Chloe bahwa ia tidak dipenjara melainkan dirawat di rumah sakit. Malang saat tertidur dalam bis, Tom kehilangan kopernya. Ia harus memohon pada pemilik motel kumuh, Sezer untuk menginap sambil bekerja enam jam di ruang tertutup. Hubungannya dengan dua wanita sekaligus, Margit yang suaminya penulis dan Ania yang pelayan motel berujung pada misteri pembunuhan yang tak terpecahkan. 

Sebelumnya saya ingatkan bahwa mulai paragraf ini hingga selesai mungkin akan mengandung spoiler. Tidak terlalu penting mengingat tidak ada jawaban pasti dari filmmakernya sendiri di penghujung film. Jika setia pada novel Kennedy, sosok Margit digambarkan sebagai hantu wanita yang menjaga Tom sampai membunuh siapapun yang menghalanginya. Mereka berdua pun menyatu dalam percintaan panas beda alam. Sedangkan pada film Pawlikowski, semua informasi tentang tokoh-tokohnya dibuat blur sehingga kesimpulan akhir dikembalikan kepada masing-masing penonton. Provokatif bukan?

Versi saya mungkin lebih liar lagi, Tom selalu kembali pada apartemen Margit untuk mengenang percintaan terlarang mereka di masa lampau dimana Margit bunuh diri setelah suami dan putri sulungnya tewas dalam kecelakaan mobil. Sedangkan Ania yang sempat memperlihatkan foto lawas keluarganya adalah putri bungsu Margit yang akhirnya tanpa sengaja bertemu Tom hingga keduanya jatuh cinta. Ania membunuh Moussa dan mengkambinghitamkan Sezer untuk mengambil alih motel tersebut. Tom lantas mengekspresikan rasa bersalah terhadap putrinya Chloe lewat surat.

Harus diakui, nyawa film ini ada di tangan Ethan Hawke sebagai karakter sentral yang menghubungkan setiap tokoh dengan konflik utama maupun tambahan. Ia berhasil menjiwai sosok penulis pecundang yang (kebetulan) meraih sukses hanya melalui satu buku sebelum hidupnya terperosok karena mentalnya yang terganggu akibat dipenjara. Scott Thomas yang kerap bergaun merah menghidupkan love interest Margit yang prima penuh pesona. Sedangkan Kulig tak kalah menggoda lewat Ania yang lugu dan pemimpi. Sesaat anda akan percaya bahwa film ini murni bertutur  tentang cinta segitiga.

Pawlikowski dan rekan sinematografer, Ryszard Lenczewski menggunakan teknik kamera yang tidak biasa, lengkap dengan visual hipnotik yang mempermainkan imajinasi manusia. Lokasi Paris yang tak lazim bisa jadi mengingatkan anda pada film-film art house Eropa di tahun 60an. Tempo yang super lambat dalam memaparkan konflik antiklimaks tak berkonklusi amat membutuhkan kesabaran dan toleransi penontonnya untuk benar-benar dapat menilai film secara keseluruhan. The Woman in the Fifth akan mengajak anda berpikir bersama sekaligus mempertanyakan apa yang sesungguhnya terjadi. It’s a rare enigmatic experience!


Durasi: 
83 menit

U.S. Box Office: 
$112,498 till July 2012

Overall: 
7 out of 10

Movie-meter:
Read More..

BEST PICK LOCAL MOVIES OF 2012

Senin, 31 Desember 2012
THE RAID
 
Keterbatasan bujet tidak menghalangi efektifitas kinerja setiap departemen dalam film ini. Plot cerita yang sangat dasar tertutupi oleh koreografi tarung para cast nya yang sangat meyakinkan. The Raid adalah action non-stop dari awal sampai akhir termasuk klimaks penutup yang mencengangkan. Intensitas ketegangan menjaga penonton untuk tetap terpaku pada kursi masing-masing. Wajib tonton di bioskop untuk merasakan “getaran” secara langsung. Gareth Evans secara tersirat mengisyaratkan pada penonton film global bahwa wajah industri film Indonesia mungkin akan segera berubah di masa mendatang.

LOVELY MAN
 
Ketidaksempurnaan sebagai film dibayar tuntas dengan kesempurnaannya dalam mengeksploitasi substansi hubungan antar personal. Lovely Man tidak bertutur dengan cara yang ekstrim meskipun tokoh Ipuy sendiri tak akan diterima begitu saja oleh kebanyakan orang. Penyelesaiannya tergolong pas dalam menyudahi pertanyaan-pertanyaan yang menghinggapi Cahaya atau kewajiban-kewajiban yang membebani Syaiful secara harfiah, meninggalkan penonton dengan tanda tanya besar akan kelanjutan hidup ayah dan anak setelah perjalanan satu malam tersebut. Sisi humanis yang teramat realistis itulah yang menjadikan saya dan sebagian besar penonton lain jatuh cinta. Cinta akan tontonan berisi apa adanya tanpa harus membalutnya dengan sampul eksklusif. One of the best local drama I’ve ever seen!

RAYYA, CAHAYA DI ATAS CAHAYA
 
Rayya sukses memberikan pengalaman sinema yang teramat dewasa untuk dimengerti benar. Sebuah studi kasus kompleksitas egosentris dan penyerahan diri seorang manusia dalam menyikapi setiap permasalahan yang menghampiri. Sisipan pesan moral disana-sini patut menjadi renungan tanpa muatan elemen yang terlampau berat untuk dipikul bersama. Cahaya akan selalu menjadi musuh kegelapan sekaligus memaknai harapan yang datang kelak. Momen dimana Rayya siap menyongsongnya dengan pribadi baru yang bersinar.

HABIBIE & AINUN
 
Habibie & Ainun sesungguhnya bisa menjadi film yang sempurna andaikata pengembangan karakter di luar Reza dan BCL dapat diberi ruang lebih plus referensi peristiwa bersejarah yang lebih kuat pengaruhnya terhadap Habibie sendiri. Sekali lagi saya ingatkan, ini adalah perjalanan sebuah kisah cinta sepasang insan yang tak lekang oleh waktu terlepas dari keadaan dan ketiadaan di muka bumi. Bagi Habibie, Ainun adalah inspirasi yang melengkapi setiap pencapaian dalam hidupnya. Teladan yang pantas ditiru oleh pasangan manapun juga dalam upaya melangkah bersama membangun suka duka rumah tangga.

5 CM
 
Di atas semuanya, mohon camkan baik-baik bahwa visi terbesar 5 cm adalah mengajarkan kita untuk mengejar mimpi. Bukankah semua berawal dari situ? Keyakinan untuk menggapai harus dilandasi tekad yang kuat dan usaha yang maksimal. Analogi kaki, tangan, mata, leher, mulut dan hati sebagai modal pendukung dari Tuhan kepada setiap manusia itu tergolong luar biasa. Sebuah penegasan bahwa jatuh bangun itu hal yang biasa asalkan kamu tidak berhenti. Tentunya dukungan keluarga dan sahabat juga dibutuhkan sebagai dorongan semangat. Awesome cinematography has capped this as one of the best Indonesian movies ever made!

MODUS ANOMALI
 
Modus Anomali tidaklah sulit untuk dicerna setelah anda menyelesaikan menit-menit terakhir yang menyingkap suspensi satu per satu. Sambil menunggu klimaks tersebut, tak ada salahnya anda berupaya menerka twist macam apa yang kali ini disuguhkan. Temukanlah setiap kepingan puzzle yang tersebar di seluruh penjuru demi mendapatkan gambaran utuh yang akan mencengangkan anda. My message for you, stop reading too much reviews everywhere and let your very own "mindfuck" begins!

SAMPAI UJUNG DUNIA
 
Sampai Ujung Dunia merupakan suguhan drama percintaan murni yang akan mengingatkan anda pada film-film sejenis di tahun 1980an sebut saja Badai Pasti Berlalu, Satu Jam Saja dsb. Rentang waktu yang cukup panjang memang tidak terasa mencolok perbedaannya selain suguhan konsistensi sinematografi yang memikat terlebih setting lokasi Belanda yang menyatu dengan kebutuhan cerita di bagian penutupnya. Suguhan musik pengiring dari Bongky Marcel dan Ganden Bramanto pun mengalir indah melingkupi muara cinta segitiga Gilang-Anissa-Daud. Ah, cinta memang harus memilih, apapun konsekuensinya.

CITA-CITAKU SETINGGI TANAH
 
Cita-citaku Setinggi Tanah akan membuka mata anda bahwa film “baik” itu pantas untuk dinikmati. Bukan hanya itu, 100% hasil penjualan tiket akan disumbangkan kepada Yayasan kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) demi memotivasi semangat mereka untuk melanjutkan hidup. Antara menginginkan dan mewujudkan tentunya ada proses yang harus dilalui. Kita lantas menyebutnya perjuangan dimana besar kecilnya usaha akan menentukan hasil akhir. Berhasil atau gagal ada di tangan anda. Wujudkan cita-cita, berawal dari kita, slogan penutup sempurna untuk sebuah presentasi inspiratif dari seorang Eugene Panji.

MALAIKAT TANPA SAYAP
 
Malaikat Tanpa Sayap pada akhirnya turut memperkaya khasanah perfilman Indonesia dengan kualitas yang di atas rata-rata. Saya menyukai penuturan lembut Rako yang sangat memperhatikan emosi aktor-aktrisnya yang terjaga dengan baik tanpa harus berlebihan. Sayangnya endingnya masih terlalu “tipikal” dengan twist yang sengaja dipaparkan demikian adanya. Tak pelak sepeda, lukisan pasir, komedi putar pun turut menjadi saksi bagaimana sepasang anak manusia mampu menemukan jati dirinya masing-masing di tengah himpitan kompleksitas masalah orang dewasa. Bukankah ikatan itu menguatkan?

POSTCARDS FROM THE ZOO
  
Menonton Postcards From Zoo mungkin akan meninggalkan ambiguitas dalam diri anda layaknya potongan puzzle yang tersebar selama 95 menit. Gaya penceritaan Edwin yang linier memang tidak memberi penjelasan yang dibutuhkan penonton untuk dapat mengerti latar belakang setiap karakter intinya. Namun kebebasannya bereksperimen dengan sedikit sentuhan magis itulah yang menjadikan konsep film ini terasa matang dalam balutan semangat indie. Bagaikan menggiring kita dalam sebuah tour singkat kebun binatang yang dianalogikan sebagai dunia tempat anda berpijak dan hewan-hewan di dalamnya sebagai orang-orang yang anda temui dalam kehidupan sehari-hari dengan ragam variatif. Selalu dibutuhkan proses pengenalan, pembelajaran, adaptasi yang samasekali tidak mudah dilalui demi sebuah pencapaian tertinggi. Jika impian Lana ialah memegang perut jerapah, bagaimana dengan anda?
Read More..

JACK REACHER : Smart Thriller New Hero Interpretation

Sabtu, 29 Desember 2012

Quote:
Jack Reacher: You think I'm a hero? I am not a hero. And if you're smart, that scares you. Because I have nothing to lose. 

Nice-to-know: 

Karakter Jack Reacher dari buku seri Lee Child merupakan seseorang dengan tinggi 195cm dan berat 105-125 kg sedangkan Tom Cruise hanya setinggi 172cm.

Cast: 
Tom Cruise sebagai Reacher
Rosamund Pike sebagai Helen
Rodin
Richard Jenkins sebagai Rodin
David Oyelowo sebagai Emerson
Werner Herzog sebagai The Zec
Jai Courtney sebagai Charlie

Joseph Sikora sebagai Barr


Director: 
Merupakan film kedua bagi Christopher McQuarrie yang pernah memenangkan Oscar lewat The Usual Suspects (1995) kategori naskah terbaik.

W For Words: 
Sebelum melihat film ini, ada baiknya anda mengenal sosok protagonis fiktif dalam novel Lee Child terlebih dahulu. Jack Reacher adalah mantan tentara Amerika Serikat berambut pirang dengan tinggi 195 cm dan berat 125 kg. Selama 13 tahun pengabdiannya, ia sempat ditugaskan dalam Unit Investigasi Khusus untuk menangani kasus-kasus sulit yang melibatkan rekan-rekannya. Bisa anda bayangkan Tom Cruise memerankannya? Bagi saya, superstar Hollywood yang hanya bertinggi sekitar 173 cm itu memang tak perlu diragukan lagi aksi dan aktingnya meski sudah memasuki usia “rawan” sekalipun. 

Mantan tentara militer, Barr ditangkap Kapten Emerson dengan tuduhan menembak mati lima penduduk sipil di tengah kota. Ia tidak mengaku bersalah dan sempat menyebutkan nama Jack Reacher sebelum koma. Jack adalah mantan rekannya selama bertugas di Iran yang segera mencium adanya motif lain di balik pembunuhan random tersebut. Berseberangan dengannya adalah Jaksa Penuntut Rodin yang tidak pernah kalah. Sebaliknya, putri kandung Rodin yaitu Helen bertindak sebagai Pengacara Barr. Jack harus memecahkan kasus itu sekaligus mengungkap siapa dalang sesungguhnya.

Christopher McQuarrie yang menulis skrip berdasarkan chapter “One Shot” jelas bukan nama sembarangan di bidangnya karena status sebagai pemegang Piala Oscar. Ia tergolong cekatan menggunakan multi POV di setiap  penelusuran konfliknya sehingga setiap karakter bisa menjadi hitam, putih hingga abu-abu. Itulah sebabnya anda akan terus berupaya menerka kira-kira kejutan apa lagi yang menanti selanjutnya sesuai petunjuk minim yang disediakan. Saya sarankan untuk menonton dalam keadaan fresh sehingga memiliki fokus yang cukup baik untuk mengikuti storytelling demikian.

McQuarrie sebagai sutradara pun tidak kalah dinamis menggunakan gaya lambat yang efisien dalam bertutur. Itulah sebabnya unsur drama terasa lebih dominan disini apalagi persinggungan dengan latar belakang masing-masing tokohnya yang sangat variatif itu. Faktor crime nya memang tidak terlalu “keras”, mungkin karena rating “Remaja” yang disandangnya. Namun berbagai elemen aksi yang diselipkan mulai dari tukar-menukar peluru, kejar-mengejar mobil dsb akan membuat anda tetap terjaga di kursi selama lebih dari dua jam durasinya.

Cruise adalah pilihan tepat jika franchise ini berencana dikembangkan ke depannya. Reacher di tangannya terbilang dingin dan tangguh tanpa harus kehilangan karismanya yang dominan. Sempat meragukan Pike untuk mengimbangi, nyatanya Helen mampu dilakoninya dengan cerdas dan tegas dalam mengambil keputusan. Courtney memerankan sosok protagonis yang tepat karena Charlie memiliki postur mantap dan kemampuan membunuh yang meyakinkan. Oyelowo menjiwai karakter polisi tipikal yang selalu terlambat selangkah. Jenkins dan Herzog berhasil mencuri perhatian walau screen time mereka terbatas.

Jack Reacher mungkin tidak akan memuaskan seluruh pecinta novelnya tetapi jelas tidak mengecewakan bagi penggemar crime drama/thriller. Saya menikmati tiap menitnya dimana sekecil apapun petunjuk yang ditinggalkan bisa membuka keseluruhan misteri yang ada. Bagaikan potongan puzzle yang terus dirangkai hingga menjadi sebuah gambaran utuh. Mudah-mudahan seri berikutnya dapat bermunculan dengan petualangan yang lebih seru lagi. When you got a hero who has great fighting techniques, brilliant investigative skills and smart modus operandi, you couldn’t ask for more!


Durasi: 
130 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:

Notes:
Art can’t be below 6
6-poor
6.5-poor but still watchable
7-average
7.5-average n enjoyable
8-good
8.5-very good
9-excellent
Read More..

POTONG BEBEK ANGSA : Komedi Bodoh Hangover KW Tiga

Jumat, 28 Desember 2012

Quote: 
Sasha: Ini tuh yang ngomong, Otong mabok ato Otong sadar sih?
Otong: Otong mabok, mabok asmara.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Falcon Pictures ini gala premierenya diadakan di Hollywood XXI pada tanggal 24 Desember 2012.

Cast:
Olivia Jensen Lubis sebagai Sasha
Boy William sebagai Masen
Ricky Harun sebagai Otong
George Rudy sebagai Gembong Mafia
Max Don sebagai Bos mafia Afro-American
Oka Sugawa sebagai Bowo
Dewi Rezer sebagai Ibu
Ferry Salim sebagai Ayah


Director: 
Merupakan karya kedua Alyandara setelah Xia Aimei di awal tahun.

W For Words: 
Mengadaptasi satu (atau dua) film Hollywood yang sudah memiliki reputasi dan fanbase internasional tersendiri tentunya harus menimbang resiko yang ada agar tidak gagal total. Sayangnya Falcon Pictures tampaknya tidak berpikir panjang bahwa secara konten budaya dan adat istiadat pun “kegilaan” dalam Dude, Where’s My Car? (2000) dan The Hangover (2009) tidak dapat diterapkan begitu saja terhadap film lokal. Sah-sah saja sebenarnya jika “versi gue (ato kite)” tetap melakukannya karena penilaian akhir ada pada bursa alias penonton. Penasaran? Saya sih iya!

Sasha yang tengah berangkat ke Paris dalam dua hari diundang sahabatnya Ivan ke pesta kostum. Ia lantas mengajak kakaknya Masen dan sohibnya Otong. Kasus salah alamat akhirnya berbuntut panjang. Minuman memabukkan membuat ketiganya lupa diri dan terbangun di pesisir pantai dengan sebuah mobil sedan silver yang bukan milik mereka. Sasha panik karena paspor, tiket dan dokumen penting miliknya ada di mobil Masen. Bukan hanya itu, seorang polisi bernama Bowo, tiga mafia Afro Amerika dan gerombolan mafia lokal turut memburu ketiganya yang harus tunggang langgang mencari jawaban.

Skrip yang ditulis oleh Hilman Mutasi dan Away Martianto ini memiliki logika jumpalitan yang rasanya hanya bisa dicerna oleh makhluk angkasa luar. Kemalasan memberi nama kepada para tokohnya sudah menjadi indikasi. Simpati penonton yang harusnya terbangun dari kelucuan spontan dan kepanikan wajar ketiga karakter utamanya sejak menit awal terbilang gagal. Beberapa penonton mungkin berharap Otong, Masen dan Sasha tak “terbangun” lagi untuk selama-lamanya daripada menyaksikan kebodohan episodik tak berkesudahan yang begitu mengganggu nalar.

Pertama, Sasha yang panik mencari ponsel begitu tersadar malah lupa apa yang seharusnya dilakukan setelah dipinjami oleh Ivan. Kedua, adakah polisi sebodoh Bowo yang bertugas sendiri. Tunggu, dia polisi atau detektif? Ketiga, mengapa gerombolan Gembong Mafia begitu tolol meninggalkan mobil tanpa dijaga saat ingin menangkap ketiga muda-mudi itu? Keempat, kenapa mafia Afro-Amerika menggunakan dialek campuran. Kelima, aksi kejar-kejarannya sangat tidak believable. Lontaran peluru yang semuanya luput (cuma satu mengenai lengan Otong) hingga penyelesaian kelemut yang semestinya bisa lebih dini. Thumbs up if you could get through these!

Saya nobatkan gelar worst costume in a movie tahun ini bagi trio Ricky, Olivia, Boy sekaligus salut mereka mampu bertahan mengenakan kain seprai, pakaian balet dan kostum bebek di sepanjang film. Seberapa kerasnya Otong mencoba melucu, saya tidak tertawa. Seberapa kuatnya persahabatan Otong dan Masen, saya tidak tergugah. Seberapa manisnya Otong berupaya mendapatkan hati Sasha, saya tidak tersentuh. Salahkan pada himpitan komedi situasi berpondasi lemah yang gagal menambatkan konflik apapun dengan kendali ceritanya.

Kinerja Alyandra yang di bawah standar saat mengarahkan Xia Aimei beberapa waktu lalu bisa dimaklumi karena debutnya. Namun karya keduanya ini yang juga tidak inspiratif membuat kapabilitasnya dipertanyakan. Saya justru menangkap gaya Anggy Umbara dalam Mama Cake (2012) disini yang menyelipkan gimmick-gimmick ala komik dan video game di berbagai scene. Karena sudah pernah melihat sebelumnya, saya tidak melihat hal tersebut sebagai terobosan baru yang kreatif. Ya setidaknya editing Cesa David dan tata musik Ramondo Gascaro sedikit membuat perbedaan positif.

Satu-satunya unsur hiburan dalam Potong Bebek Angsa adalah suguhan penampilan Super Senior dalam membawakan lagu ciptaan Pak Kasur versi baru ini plus behind the scene yang menampilkan kesalahan-kesalahan saat syuting. Selebihnya adalah rentetan chaos tak bertanggungjawab yang urung memunculkan tawa tapi sukses menimbulkan manyun. Andai saja membuat film semudah memberikan kostum Pocong, Bebek dan Angsa untuk dipakai oleh Ricky Harun, Boy William dan Olivia Jensen hingga menjadikannya judul film sekaligus. Mengerikan!


Durasi: 

75 menit

Overall: 
6.5 out of 10

Movie-meter:
Read More..

CINTA TAPI BEDA : Menggalang Rasa Pada Titian Keyakinan

Kamis, 27 Desember 2012

Quote: 
Diana: Nunggu taksi itu kayak nunggu jodoh, lama banget.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh Multivion Plus ini gala premierenya diselenggarakan di Epicentrum XXI pada tanggal 20 Desember 2012.

Cast: 
Agni Pratistha sebagai Diana Fransiska
Reza Nangin sebagai Cahyo Fadholi
Choky Sitohang sebagai Oka
Ratu Felisha sebagai Mitha
Agus Kuncoro sebagai Pacar baru Mitha
Jajang C Noer sebagai Bunda Diana
Nungky Kusumastuti sebagai Ibu Cahyo



Director: 
Merupakan film kedua Hestu Saputra setelah Pengejar Angin (2011) yang kali ini turut menggandeng “guru”nya Hanung Bramantyo.

W For Words:
Kasus percintaan berbeda keyakinan kerap ditemui pada pasangan kekasih di belahan dunia manapun. Solusinya ilegalnya, menikah di bawah tangan. Legalnya, menikah di negara yang memperbolehkan aturan tersebut. Kedua-duanya jelas bukan opsi yang mudah bagi siapapun yang menjalaninya. Itulah permasalahan yang (lagi-lagi) berusaha dikupas dalam film terbaru Multivision Plus ini. Satu-satunya nama dalam poster yang “menjual” adalah Hanung Bramantyo di kursi sutradara yang kali ini bertandem dengan Hestu Saputra. Tak usahlah kita mereka-reka berapa persen pembagian tugas di antara keduanya.

Cahyo yang bekerja di sebuah cafe memutuskan pacarnya Mitha yang ketahuan selingkuh. Tak lama ia bertemu Diana, mahasiswi jurusan tari yang tengah melakukan pertunjukannya. Mereka cepat akrab satu sama lain hingga sepakat menjalin cinta. Sayangnya ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Cahyo berasal dari keluarga muslim taat di Yogya sedangkan Diana beragama Katolik dari garis keturunan ibu asli Padang yang kuat. Hambatan demi hambatan mulai menghimpit terlebih saat keduanya memutuskan untuk maju terus sampai jenjang pernikahan.

Cerita memang digagas oleh Hestu dan Hanung yang lagi-lagi menjadi cameo sebagai pelanggan cafe disini. Namun tugas Taty Apriliyana, Novia Faizal, Perdana Kartawiyudha lah untuk menuangkannya dalam bentuk skrip. Saya melihat beberapa dialog sudah ditempatkan sedemikian rupa pada bagian-bagian tertentu untuk mempertajam konflik. Hanya saja terdapat sebuah kesalahan fatal yaitu diferensiasi Kristen Protestan dan Katolik kerap rancu membangun latar belakang Diana dan ibunya. Bagi non Kristen mungkin tidak akan memperhatikan perbedaannya yang begitu jelas.

Saya belum melihat kualitas akting seorang Agni Pratistha mampu melampaui debutnya dalam Mengejar Matahari (2004). Karakter Diana dijiwainya dengan tipikal, tidak jelek memang tapi dalam standar yang teramat diharapkan. Kemauannya untuk mempelajari seni tari setidaknya pantas diapresiasi disini. Pendatang baru Reza Nangin lumayan mencuri perhatian dengan karakter Cahyo yang berhati lembut tapi berprinsip keras. Jajang sekali lagi memperlihatkan kelasnya meski saya berharap dialek Padang nya konsisten di sepanjang film. Menarik melihat Choky berusaha “lebih” untuk memperlihatkan sosok pria Katolik dewasa yang penuh pengertian dan filosofis.

Sutradara Hestu masih mengalami sedikit inkonsistensi dalam menyuguhkan gambaran utuh sebuah film layar lebar sehingga penonton bisa jadi berujar “Sinetron banget sih!”. Perubahan teknis tata kamera saat berada di Jakarta, Yogya dan Padang pun begitu terasa. Kinerja penata musik kali ini memang sangat penting karena harus mencerminkan dua ‘identitas’ sekaligus dan Erros Chandra melakukannya dengan cukup hati-hati walau tidak sepenuhnya maksimal. Setidaknya editing Wayan I Wibowo masih terbilang rapi dalam menggulung frame demi frame demi menjaga fokus yang diharapkan.

Tanpa bermaksud spoiler, saya menilai ending dari Cinta Tapi Beda secara keseluruhan adalah kekuatan tersendiri karena berani mendobrak pakem film-film sejenis sebut saja cin(T)a (2009) atau 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (2010). Tetap saja batasan-batasan yang membelenggu dikejawantahkan di sepanjang film untuk mempertegas resikonya. Pada akhirnya semua itu adalah opsi yang harus dibuat manusia-manusianya. Banyak contoh kegagalan dengan rasio keberhasilan yang begitu minim. Seberapa kuat pengaruh “rasa” di atas titian bernama keyakinan adalah jawaban dari cinta yang begitu pribadi adanya.


Durasi:

96 menit

Overall: 
7.5 out of 10

Movie-meter:
Read More..

DEMI UCOK : Multi Dimensi Budaya Batak Ibu dan Anak

Sabtu, 22 Desember 2012

Quote: 
Mak Gondut: Semua di dunia ini ada yang punya. Kau saja Glo, ga ada yang punya.

Nice-to-know: 
Film yang diproduksi oleh PT. Kepompong Gendut dan Royal Cinema Multimedia ini press screeningnya diadakan di Blitzmegaplex Grand Indonesia pada tanggal 20 Desember 2012.

Cast: 
Geraldine Sianturi sebagai Gloria Sinaga
Lina Marpaung sebagai Mak Gondut
Saira Jihan sebagai Niki
Sunny Soon sebagai A Cun


Director: 
Merupakan karya personal kedua bagi Sammaria Simanjuntak setelah cin(T)a (2009) yang rilis terbatas.

W For Words: 
Satu tahun berlalu sejak gerakan mencari 10.000 orang coProduser dengan donasi masing-masing seratus ribu rupiah dicanangkan oleh PT. Kepompong Gendut demi mendukung film ini rilis di bioskop. Pada akhirnya dana yang terkumpul memang hanya sekitar dua ratus lima puluh juta rupiah tetapi era DCP memungkinkan film ini memangkas biaya penggandaannya hingga dapat tayang pada tanggal 3 Januari 2013 mendatang. Rasa terima kasih atas dukungan yang begitu besar membuat sutradara Sammaria Simanjuntak memutuskan mengganti tagliine dengan “a film by a mother, a daughter and YOU!”

Gloria Sinaga seperti gadis Batak lainnya kerap mendapat tekanan untuk menikah dari orangtuanya. Mak Gondut yang juga berprofesi sebagai aktifis di tiga partai nasional tak jarang menjodohkannya dengan anak teman-temannya. Gloria bukan tidak ingin karena ia lebih ingin menjadi pembuat film tapi terbentur masalah dana. Dua sahabatnya Acun si aktor terkenal dan Niki si penjual dvd setia mendukung niatnya itu. Meski demikian Gloria tetap berprinsip, uang investor yang didapatnya harus halal. Berhasilkah “tenggat waktu” yang ada dimaksimalkan Glo?

Skrip yang ditulis oleh Sammaria ini diakuinya telah mengalami beberapa perombakan sebelum diputuskan untuk “jujur” terhadap dirinya sendiri. Dua plot utamanya berjalan bersisian yaitu hubungan ibu dan putrinya serta seorang gadis yang tengah mengejar mimpinya. Di antara keduanya terbentang lagi beberapa subplot tambahan yang tidak cuma memperkuat tetapi juga fasih menyindir berbagai situasi dan kondisi yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kelebihan inilah yang mendorong film secara tidak langsung berhasil menjalin koneksi yang kuat dengan penontonnya.

Nama Geraldine Sianturi dan Lina Marpaung memang asing bagi anda. Namun keduanya mampu menghadirkan akting personalyang memukau serta chemistry ibu dan anak dengan luar biasa. Geraldine menokohkan Glo dengan spontan dimana timing aksi reaksinya begitu tepat kala disuguhkan sebuah umpan. Sama halnya dengan Lina yang menjiwai Mak Gondut dengan slapstick sarcastic dalam arti positif, menggelikan sekaligus menggugah simpati. Saira Jihan dan Sunny Soon tetap mampu menyuguhkan karakter sidekick yang melengkapi terlepas dari minimnya screen presence keduanya.

Sammaria sebagai sutradara seakan mendobrak jembatan antara filmmaker dengan viewersnya. Ia membiarkan filmnya “ditelanjangi” oleh penonton. Penata kamera Hegar A Junaedi, penata artistik Rezki Ridha, penata busana Yufie Safitri, penata suara Andri Yargana mendukung dengan kinerja yang juga tidak jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari. Kolaborasi penata musik M. Betadikara dengan grup musik elektronik asal Bandung, Homogenic menggelorakan nuansa chic modern yang asyik sebagai latar penceritaan. Kekompakan tim produksi yang minim personil ini setidaknya membuktikan sesuatu.


Segala hal yang berbau Batak sukses menjadi identitas film yang tak terelakkan. Spontanitas kata-kata yang keluar dengan volume keras dan tinggi bisa jadi “kasar” di mata kebanyakan orang. Namun ciri khas itulah yang juga secara simbolis dimanfaatkan Sammaria (melalui tokoh Gloria) untuk mengekspresikan pemikirannya yang liberal di luar kungkungan tradisi keluarga dan budaya lingkungan yang kerap menghimpit kita. In the end it teaches us to speak louder to be listened. Demi Ucok mempotretkan semuanya dalam hubungan multi dimensional ibu dan anak yang tetap terjaga keharmonisannya. Wonderful!

Durasi: 

79 menit

Overall: 
8 out of 10

Movie-meter:
Read More..
 
 
 
 
Copyright © 2012 Info Cinema21
Powered by Blogspot